Share Me!

>
Tampilkan postingan dengan label Tips Islami_Berkehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Islami_Berkehidupan. Tampilkan semua postingan
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


SRIPOKU.COM - Iblis telah berjanji bahwa ia akan menyesatkan manusia hingga akhir zaman nanti. Iblis adalah makluk Allah yang terlaknat, ia telah dikutuk oleh Allah hingga hari pembalasan nanti karena ia mengingkari perintah Allah.

Iblis meminta kepada Allah agar ia diizinkan untuk menggoda manusia dan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Sehingga nanti diakhirat ia memiliki teman untuk ditempatkan didalam neraka.
Di hari akhirat kelak, iblis akan berkhutbah kepada para pengikutnya. Bahkan khutbah iblis ini adalah khutbah yang paling menyentuh hati. Tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini.

Lantas, bagaimana khutbah iblis di hari hari pembalasan nanti di depan para pengikutnya? Allah telah menunjukkannya kepada kita di dalam Alquran.

Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, seprti dilansir firanda.com mengatakan, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…" (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

"Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblis pun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489)

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat menegangkan. Tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!!

Khutbah tersebut…
Benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis…,
Khutbah yang mengalirkan air mata mereka…
khutbah yang benar-benar telah menyadarkan mereka akan kesalahan-kesalahan mereka…
Khutbah yang menyadarkan mereka bahwasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin…sang khotiib…Iblis la’natullah 'alaihi

Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:
"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya.

Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri.

Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku.
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih".
Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)

Demikianlah khutbah Iblis tersebut, setelah ia menggoda manusia, setelah menipu mereka, setelah menjerumuskan mereka dalam neraka.

Setelah tercapai cita-citanya, lalu Iblis pun berlepas diri dari para pengikutnya. Ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya.

Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela, akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri.

Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya.
Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih" Lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk surga, yaitu orang-orang yang tidak mau menjadi pengikut Iblis…!!!
Sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…

Beruntunglah bagi yang membaca Alquran, karena didalamnya Allah telah memberitahu kita tentang apa yang akan iblis katakan di akhirat nanti.

Oleh sebab itu, marilah kita mendekatkan diri kepada Allah agar kita tidak terjebak dalam tipu daya iblis dan semoga Allah selalu melindungi kita dari hasutan iblis.

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Jakarta, bimasislam-- Belakangan santer di media sosial tentang binatang bernamaMangalitsa, khususnya melalui Whatsapp.Dalam informasi tersebutdisebutkan bahwa Mangalitsa merupakan hasil persilangan babi denganbiri-biri(domba). Ditambah lagi data-data bahwa dagingnya telah tersebar dengan harga murah dari Wikipedia yang belum jelas sumbernya.

Akibatnya, informasi itucukup meresahkan masyarakat, terutama bagi konsumen muslim. Berikut sedikit ulasan tentang mangalitsa.   Menurut para ahli perhewanan IPB (12/2), Mangalitsa merupakan  nama untuk  satu spesis binatang, yaitu: Babi Berbulu seperti Biri-biri, atau dalam bahasa Hungaria dikenal dengan istilah Mangalica yang dikenal sebagai Hog kerinting rambut. Babi Mangalitsa  merupakan babi jenis lain yang mempunyai bulu yang panjang, yaitu jenis “Lincolnshire Curly Coat of England”.

Sebelumnya Mangalitsaditernak untuk mendapatkan lemak babi.   Mangalitsaadalah jenis  babi yang paling populer di daerah Balkan,sehingga 1950 (terdapat 30.000 babi jenis ini di Hungary pada tahun 1943). Mangalitsa bukanlah spesies yang benar-benar baru. Ia dikembangkan di abad 19, sekitar tahun 1830, dari persilangan antara babi jenis Bakonyi dan Szalontai asal Hungaria dengan babi Sumadia asal Serbia. Persilangan itu menghasilkan babi yang aneh.

Jika biasanya babi tidak memiliki bulu, babi Mangalitsa ini memiliki bulu tebal seperti biri-biri. Sebagian Mangalitsa berbulu coklat kehitam-hitaman, namun ada pula yang berbulu putih. Kondisi berbulu seperti inilah yang sering mengindikasikan mangalitsa seperti biri-biri.

 Pada 2006, Mangalitsa mulai diimpor ke Inggris. BBC mengakui, orang yang pertama kali melihat mereka pasti akan berpikir bahwa mereka adalah domba.   Maraknya informasi tentang mangalitsa cukup membuat masyarakat muslim khawatir terhadap peredaran daging Mangalitsa. Namun di Indonesia,  jenis babi ini belum ada. Mangalitsa merupakan species babi dengan harga yang sangat mahal. Mangalitsa mengandung lemak antara 65-70%, sehingga hanya diminati hanya oleh kalangan tertentu di Hungaria dan beberapa negara Eropa lainnya.

Peredaran daging hewan ternak di Indonesiadiawasi oleh pemerintah, dalam hal ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Dalamketentuan pasal 36 UU RI Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan pemasaran hewan atau ternak dan produk hewan di dalam negeri maupun ke luar negeri.

 Disamping itu,produsen harus memenuhi ketentuan pencantuman label halal untuk setiap produk yang diperdagangkan di Indonesia, sebagaimana ketentuan pada pasal 2 PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Dengan ini,produsen daging tidak bisa serta merta mendistribusikan produksi daging mereka tanpa melalui izin dari Menteri Pertanian.

Saat diwawancana bimasislam, Kasubdit Produk Halal Direktur Urais dan Binsyar, Siti Aminah mengatakan, pengawasan masyarakat terhadap peredaran daging hewansangat penting. Ini menjadi faktor pendukung agar daging Mangalitsatidak benar-benar beredar di negeri kita. Kontrol masyarakat diperlukan dalam mengawasi pangan yang beredar, tegasnya.

Lebih lanjut, hal lain yang perlu diwaspadai adalah barang gunaan yang berbahan woll. Perlu ketelitian dan kehati-hatian konsumen muslim dalam memilih barang gunaan yang tidak mengandung unsur haram, tutupnya. (lady/foto:ilustasi)

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat mungkin merupakan salah satu hal yang sebaiknya dicari setiap orang yang hidup di dunia ini. Hal ini dikarenakan setiap manusia akan mati, dan ketika mereka sudah mati maka tidak ada lagi kebaikan yang bisa mereka perbuat untuk terus menuai pahala untuk hari penimbangan di akhirat nanti. Karena itulah, jenis-jenis amalan ini ada baiknya kita lakukan agar kita bisa terus mendapatkan pahala. Kali ini kita akan sama-sama membahas tentang apa saja yang membuat kita tidak berhenti mendapat pahala meskipun sudah di alam yang berbeda.

Jika kita berbicara tentang amalan yang terus berlanjut hingga hari kiamat, maka kita tidak boleh lupa untuk mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Pada hadits tersebut diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa manusia yang meninggal maka akan putus semua pahala yang pernah ia perbuat tapi tidak dengan 3 hal. Hal-hal yang tidak bisa putus itu adalah amal jariah, doa dari anak-anak yang shaleh, serta ilmu yang berguna untuk masyarakat atau untuk anggota keluarga serta teman-teman yang ia tinggalkan ketika ia masih hidup.

Lewat hadits tersebut, diketahui bahwa ketika seseorang meninggal, putusnya pahala kebaikan dari orang itu juga terjadi tanpa pandang bulu siapa pangkat dia ketika masih hidup atau apa yang ia lakukan semasa hidupnya. Meski begitu, ternyata Allah SWT memberikan seseorang kesempatan untuk berbuat sesuatu yang akan membuatnya terus mendapatkan pahala bahkan setelah ia menjadi satu dengan tanah. Apa yang akan memberinya pahala di alam kubur bukan lagi apa yang yang akan ia perbuat mengingat ia tidak lagi bisa berbuat apa-apa, melainkan perbuatan yang pernah ia lakukan.

Salah satu dari amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat adalah amal jariyah. Hal ini disebabkan karena ketika kita menyisihkan uang untuk beramal jariyah, maka kita bisa membantu orang-orang yang kesusahan. Atau jika kita menggunakannya untuk berinfaq di sebuah masjid maka kita akan terus diingat sebagai orang yang membantu penegakan agama Allah di muka bumi, serta membantu orang lain untuk mendapatkan akses lebih mudah ke tempat beribadah.

Dari hadits yang disebutkan tadi, amal jariyah hanyalah satu dari tiga yang bisa terus-terusan memberi kita pahala bahkan di dunia yang berbeda. Sisanya adalah doa dari orang-orang yang shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Demi mendapatkan amalan tanpa putus dari ketiga hal tersebut, maka kita bisa terus selalu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kondisi sekitar kita, bagi masyarakat yang hidup bersama kita. Contohnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengajarkan ilmu-ilmu yang bisa digunakan oleh masyarakat
  2. Menanam pohon yang bisa memberi makan orang banyak, seperti misalnya buah yang boleh dipetik sesuka hati
  3. Membuat sumber mata air, agar orang-orang yang tinggal di sekitar kita tidak akan kehausan atau kesulitan mencari sumber air bersih.
  4. Membuat sistem irigasi sawah agar orang-orang lebih mudah bercocok tanam
  5. Membela tanah air

Bisa dilihat dari contoh-contoh yang tertulis di atas, bahwa sesungguhnya yang bisa membuat kita mendapat pahala terus menerus adalah dengan membantu orang lain, karena kita bisa didoakan dan terhitung sebagai amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat.

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Selepas membeli kayu bakar, orang ini kemudian di rumahnya memilih kayu kayu tersebut. Tak terduga, dia mendapati sebuah kayu yang agak aneh, kayu tersebut dibungkus plastik dengan rapi, setelah dibuka ternyata kayu tersebut dipenuhi dengan paku paku dengan pola pakuan yang aneh. Melihat ada yang ganjil, dia pun pergi membawa kayu tersebut ke seorang Syaikh.

Syaikh berkata: "kayu ini adalah tumbal sihir, diperuntukkan atas satu keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan beberapa orang anak, selama paku ini masih menancap, satu keluarga tersebut tengah dalam keadaan sakit, dan hanya Allah yang mengetahui jenis sakitnya .." Lalu Syaikh itu berkata kembali: "Alhamdulillah kamu belum membakar kayu ini, jika itu kamu lakukan, nescaya satu keluarga tersebut akan Mati semua". Berikut cara rawatan sihir sesuai dengan resipi Rasulullah Saw

A. RAWATAN SIHIR

Rawatan sihir boleh dilakukan dengan dua cara:

Pertama, dengan ruqyah yang sesuai syariat

Di antara kaedah yang pernah dipraktikkan dan itu mujarab adalah

1. Mandi dengan air yang telah dicampur daun bidara

Persiapan: Sediakan 7 daun bidara hijau, dan satu baldi air yang cukup untuk mandi.

Caranya:

a. Haluskan daun bidara dengan ditumbuk, dan campurkan ke dalam air yang telah disiapkan.

b. Baca ayat-ayat berikut di dekat air (di luar bilik mandi):

1) Baca ta'awudz: a-'uudzu billahi minas syaithanir rajiim
2) Ayat kursi (QS. Al-Baqarah: 255)
3) QS. Al-A'raf, dari ayat 117 hingga 122
4) QS. Yunus, dari ayat 79 hingga 82
5) QS. Taha, dari ayat 65 hingga 70
6) Surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
7) Minumkan air tersebut di atas 3 kali (boleh gunakan gelas kecil)
8) Gunakan selebihnya untuk mandi.
9) Cara seperti ini boleh dilakukan beberapa kali, hingga pengaruh sihirnya hilang.

(Kaedah ini disebutkan oleh Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qohthani dalam buku beliau Ad-Dua wa Yalihi Al-Ilaj bi Ar-Ruqa, Hal. 35).

2. Membaca beberapa ayat al quran kemudian ditiupkan

Caranya:

a. Baca surat Al-Fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
b. Ulangi sebanyak 3 kali atau lebih
c. Baca ayat di atas, sampil ditiupkan dan diusapkan ke bahagian tubuh yang sakit.
d. Baca doa-doa ketika menjenguk orang sakit.

Kedua, menghancurkan simpul sihir

Cara kedua ini adalah kaedah menghilangkan sihir yang paling mujarab. Hanya saja, cara kedua ini agak sukar dilakukan, kerana perlu diketahui simpul sihir yang ditanam oleh dukun. Jika simpul sihir ini boleh dihancurkan maka pengaruh sihir akan hilang total. Simpul ini bak pengkalan tentera bagi si dukun untuk menyihir objek sasaran.

Sebagaimana hal ini pernah dialami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Berikut redaksi kisah yang lebih lengkap. Redaksi ini disebutkan oleh At-Tsa'alibi dalam tafsirnya dan dinukil oleh Ibnu katsir:

Dari Ibnu Abbas dan A'isyah radhiyallahu 'anhuma menceritakan:

Dulu ada seorang remaja Yahudi yang menjadi pelayan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga, datanglah beberapa orang Yahudi menemui anak ini. Sampai akhirnya si remaja ini mengambil rontokan rambut kepala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan potongan sikat rambut, dan dia berikan kepada orang Yahudi. Akhirnya, mereka gunakan rambut ini sebagai bahan untuk menyihir Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pelaku sihir adalah seorang Yahudi Bani Zuraiq, namanya Labid bin A'sham. Simpul sihir dari rambut tersebut di tanam di telaga milik Bani Zuraiq, namanya sumur Dzarwan.

Kerana pengaruh sihir ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jatuh sakit, sehingga rambut beliau mudah gugur. Beliau seolah-olah melakukan sesuatu dengan isterinya padahal tidak melakukan apa-apa. Sampai akhirnya beliau bermimpi, beliau melihat ada dua malaikat yang datang. Yang satu duduk di dekat kepala beliau dan yang satu duduk di dekat kaki beliau.

Malaikat pertama bertanya, "Apa yang terjadi dengan orang ini?" "Dia tersihir." Jawab malaikat kedua. "Siapa yang menyihir?" Tanya malaikat pertama. "Labid bin A'sham orang Yahudi." Jawab malaikat kedua. "Dengan apa dia disihir?" Jawabnya: "Dengan rambut dan potongan sikat." "Di mana simpul sisirnya?" Jawabnya: "Dibungkus kulit mayang kurma, ditindih batu, di dalam sumur Dzarwan." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun. Kemudian beliau berangkat ke sumur Dzarwan di Bani Zuraiq bersama Ali bin Abi Talib, Zubair bin Awam, dan Ammar bin Yasir.

Ali diperintahkan untuk mengambil batu itu, untuk mengeluarkan bungkus simpul sihir. Ketika itu, Allah menurunkan dua surat Al-Muawidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas). Sebelumnya, Ali bin Abi Talib diperintahkan untuk membaca dua surat tersebut. Ternyata di dalamnya ada beberapa helai rambut dan potongan sisirnya. Di sana juga ada ikatan buntalan jumlahnya ganjil. Selanjutnya benda itu dimusnahkan dan sumurnya ditutup.

Seketika itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam langsung terasa ringan dan hilang pengaruh sihirnya. Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kembali, beliau sampaikan kepada isterinya:

يا عائشة, كأن ماءها نقاعة الحناء, أو كأن رءوس نخلها رءوس الشياطين

"Hai Aisyah, air perigi itu seperti terkena daun pacar (inai). Atau seolah pangkal mayang kurma seperti kepala syaitan. "(HR. Bukhari 5763)

Imam Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma'ad berkata:

Cara menyembuhkan sakit ini ada dua, di antaranya adalah mengeluarkan sumber sihir dan memusnahkan ia. Ini adalah cara yang paling sempurna. Sebagaimana terdapat riwayat yang sahih daripada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahawa beliau berdoa kepada Allah tentang sumber sihir yang menimpa beliau, kemudian Allah tunjukkan bahawa pangkalnya ada di dalam sumur, dengan rambut dan potongan sikat dibungkus mayang kurma jantan. Ketika benda itu dikeluarkan, pengaruh sihir itu langsung hilang, seolah beliau baru bebas dari ikatan. Inilah kaedah yang paling ampuh untuk mengubati orang yang terkena sihir. Seperti halnya menghilangkan sumber penyakit dalam tubuh (Zadul Ma'ad, 4: 113)

B. PENCEGAHAN DARI SIHIR

1- Dalam setiap keadaan senantiasa mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan bertawakkal kepadaNya, serta menjauhi perbuatan syirik dengan segala bentuknya.

2- Melaksanakan setiap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta'ala perintahkan, dan menjauhi setiap yang dilarang, serta bertaubat dari setiap perbuatan dosa dan kejelekan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu' Abbas Radhiyallahu 'anhu:

يا غلام! إني أعلمك كلمات, احفظ الله يحفظك ...

"Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat. Jagalah Allah, nescaya Allah akan menjagamu ..." [HR Tirmidzi]

3. Tidak membiarkan anak-anak berkeliaran saat akan terbenamnya matahari. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Jika malam telah masuk -jika kalian berada di sore hari-, maka tahanlah anak-anak kalian. Sesungguhnya setan berkeliaran pada waktu itu. Tatkala malam telah datang sejenak, maka lepaskanlah mereka". [HR Bukhari Muslim].

4- Membersihkan rumah dari salib, patung-patung, binatang yang dipelihara dan gambar-gambar yang bernyawa serta anjing. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, bahawa Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat hal-hal di atas. Demikian juga dibersihkan dari peranti-peranti yang melalaikan, gitar, piano, seruling dan muzik.

5. Memperbanyak membaca Al Qur`an dan manjadikannya sebagai dzikir harian. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

"Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan. Sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah". [HR Muslim]

6- Membentengi diri dengan doa-doa dan ta'awudz serta dzikir-dzikir yang disyariatkan, seperti dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir setelah shalat fardhu, dzikir sebelum dan sesudah bangun tidur, do'a ketika masuk dan keluar rumah, do ' a ketika naik kenderaan, do'a ketika masuk dan keluar masjid, do'a ketika masuk dan keluar bilik mandi, do'a ketika melihat orang yang mandapat musibah, serta dzikir-dzikir yang lain.

Ibnul Qayyim berkata, "Sesungguhnya sihir para penyihir itu akan bekerja secara sempurna bila mengenai hati yang lemah, jiwa-jiwa yang penuh dengan syahwat yang senanantiasa bergantung kepada hal-hal rendahan. Oleh sebab itu, umumnya sihir banyak mengenai para wanita, anak-anak, orang-orang bodoh, orang-orang pedalaman, dan orang-orang yang lemah dalam berpegang teguh kepada agama, sikap tawakkal dan tauhid, serta orang-orang yang tidak mempunyai bahagian sama sekali dari dzikir-dzikir Ilahi, doa-doa, dan ta'awwudzaat nabawiyah. "[Zaadul Ma'ad (4/116)]

7. Memakan tujuh butir kurma 'ajwah setiap pagi hari. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

من تصبح كل يوم سبع تمرات عجوة لم يضره في ذلك اليوم سم ولا سحر

"Sesiapa yang makan tujuh butir kurma 'ajwah pada setiap pagi, maka racun dan sihir tidak akan mampu membahayakannya pada hari itu". [HR Bukhari dan Muslim]

Semoga bermanfaat, jangan lupa sebarkan pada yang lain.


وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Sobat, seberapa besarkah rasa cinta kita kepada Allah? Mungkin di antara kita ada yang mengaku mencintai Allah. Tetapi sesungguhnya apakah kita masih mengetahui apa sajakah tanda-tanda cinta padaNya? Imam Al-Ghazali dalam buku Kimia Kebahagiaan, memberi gambaran dan memotivasi kita menjadi hamba yang mencintai Sang Pencipta.

1. Tidak membenci atau merasa takut pada kematian
Nabi SAW bersabda: “Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya." Seorang pencinta Allah yang ikhlas mungkin saja bisa takut akan kematian sebelum ia menyelesaikan persiapannya untuk ke akhirat. Tapi jika ia ikhlas ia akan rajin dalam membuat persiapan-persiapan itu.

2. Rela mengorbankan kehendaknya demi kehendak Allah.
Seseorang yang mencintai Allah pastilah berpegang erat-erat kepada apa yang membawanya lebih dekat kepada Allah. Dan juga menjauhkan diri dari tempat-tempat yang menyebabkan ia berada jauh dari Allah.

3. Mengingat Allah sepanjang waktu.
Jika seseorang memang mencintai, maka ia akan terus mengingat-ingat dan jika cintanya itu sempurna, maka ia tidak akan pernah melupakanNya.

4. Cinta pada Al Quran.
Seseorang yang mencintai Allah akan mencintai al-Qur’an yang merupakan firman Allah. Jika cintanya memang benar-benar kuat, ia akan mencintai semua manusia, karena mereka semua adalah hamba-hamba Allah.

5. Tamak dalam beribadah.
Seseorang yang mencintai Allah akan bersikap tamak terhadap ‘uzlah untuk tujuan ibadah. Ia akan terus mendambakan datangnya malam agar bisa berhubungan dengan Temannya tanpa halangan.

6. Ibadah menjadi hal mudah baginya.
Jika kecintaan kepada Allah sudah sempurna, maka tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah.

7. Pencinta Allah akan mencintai orang-orang yang menaatiNya, dan membenci orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak taat. Orang-orang yang berpegang erat-erat kepada-Ku sebagaimana seorang anak kepada ibunya. Yang berlindung di dalam pengingatan kepada-Ku sebagaimana seekor burung mencari naungan pada sarangnya. Dan akan sangat marah jika melihat perbuatan dosa sebagaimana seekor macan marah yang tidak takut kepada apa pun.

Semoga kita diberikan kenikmatan untuk merasakan kecintaan thd Allah dan memiliki seluruh tanda-tanda cinta yg disebutkan di atas.

‪#‎RZMuhasabah‬

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Click: SOURCE
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Dalam setiap kejadian yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,sahabat, dan orang shaleh setelahnya selalu ada hikmah bagi kaum muslimin. Di dalamnya senantiasa terkandung pelajaran yang amat berharga. Pelajaran nan mulia nilainya itu, bisa juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-sehari dalam menghadapi ujian yang Allah Ta’ala berikan.

Disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, bahwa pasukan kaum muslimin terpojok dalam Perang Yarmuk. Di dalam peperangan tersebut, yang diangkat sebagai panglima adalah Abu ‘Ubaidah. Sedangkan yang mengangkatnya adalah ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

Sedangkan di dalam pasukan yang terpojok itu terdapat ‘Iyadh al-Asy’ari. Ia pun mengirmkan sepucuk surat untuk meminta bantuan kepada Panglima Abu ‘Ubaidah. Dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir terkait isi surat itu, “Kematian telah menghantui kami. Dan, kami meminta bantuan kepadamu.”

Tak lama setelah itu, pasukan kaum muslimin pun mendapat surat balasan dari Panglima Abu ‘Ubaidah. Dibukalah surat tersebut, dan dibaca dengan teliti setiap kalimat di dalamnya.

Kata sang Panglima menulis:

Surat kalian yang meminta bantuan kepadaku telah kuterima. Dan, aku ingin menunjukkan siapa yang lebih besar pertolongannya dan memiliki pasukan tentara yang tangguh; itulah Allah Ta’ala.
Mohonlah pertongan kepada-Nya. Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditolongnya pada waktu Perang Badar. Padahal, jumlah pasukan beliau lebih sedikit dari kalian.
Jika suratku telah sampai di tangan kalian, maka seranglah mereka dan janganlah kembali kepadaku.

Mari berhenti sesaat. Jika kita bagian dari pasukan yang terpojok itu, apa yang ada di benak kita? Ngedumel tidak ikhlas? Marah-marah dengan mengatakan, “Dimintai bantuan kok malah ceramah”? Atau kalimat tak pantas lainnya?

Mahasuci Allah Ta’ala, pasukan kaum muslimin yang terpojok itu mendapatkan aliran semangat yang amat dahsyat untuk melanjutkan jihad. Satu kalimat yang amat membekas dalam surat tersebut adalah, “Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala.”

Adakah yang lebih baik pertolongannya dari Allah Ta’ala? Adakah yang lebih agung pembelaannya dari Allah ‘Azza wa Jalla? Dialah sebaik-baik Penolong dan Pembela.

Lantas, apa dampak dari surat tersebut bagi kaum muslimin yang berjihad itu?

“Maka kami pun segera memerangi mereka hingga berhasil memukul mundur pasukan musuh sejauh empat farsakh. Dan, kami pun berhasil mendapatkan harta rampasan perang.”

Satu farsakh senilai dengan delapan kilometer. Maka hanya dengan memahami makna perkataan “Minta tolonglah kepada Allah”, kaum muslimin bisa memukul mundur pasukan musuh sejauh tiga puluh dua kilometer. Allahu Akbar!

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Click: SOURCE
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Bacalah sekejap, ilmu yang berguna untuk semua. Seorang profesor yang atheis berbicara dalam sebuah kelas.

Profesor: "Apakah Allah menciptakan segala yang ada?"

Para mahasiswa: "Betul! Dia pencipta segalanya."

Profesor: "Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan."

(Semua terdiam. Agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: "Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?"

Profesor: "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja, dingin itu ada."

Mahasiswa: "Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fizik, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas.

Suhu -460 degree Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak boleh bertindak pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata 'dingin' untuk mengungkapkan ketiadaan panas ya.

Selanjutnya! Apakah gelap itu ada?"

Profesor: "Tentu saja ada!"

Mahasiswa: "Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada.

Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya boleh kita pelajari. Sedangkan gelap tidak boleh.

Kita boleh menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.

Tapi! Anda tidak boleh mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensiti cahaya di ruangan itu.

Kata 'gelap' dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?"

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: "Tentu saja ada."

Mahasiswa: "Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga.

Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya.

Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia."

Profesor terpaku dan terdiam!

Dosa terjadi kerana manusia lupa hadirkan Allah dalam hatinya. Hadirkan Allah dalam hati pada setiap saat, maka akan selamatlah diri kita. Itulah Iman. Sesungguhnya dosa itu lahir saat iman tidak hadir dalam hati kita.

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Physics and Islam
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Bersedekahlah dengan harta terbaik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Di dalam kedua jenis sedekah ini ada keutamaan masing-masing.

Sedekah terang-terangan dianjurkan untuk menyemangati orang lain, sedangkan sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih mudah dalam menjaga niat. Sebab, jika niatnya ikhlas, amalan sedekah akan diterima oleh Allah Ta’ala, meski salah alamat.

Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, ada seorang yang berniat memberikan sedekah pada suatu malam. Ia pun membawa hartanya untuk diberikan kepada siapa pun yang ditemui.

Rupanya, sedekah itu sampai ke tangan pezina. Hingga orang-orang berkata, “Seorang pezina diberi sedekah.”

Orang itu pun berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah kepada pezina.” Lalu pada malam berikutnya, ia kembali berniat untuk bersedekah lagi.

Seperti kemarin, ia mencari penerima sedekah di tengah malam yang gulita. Hingga disampaikanlah sedekahnya kepada seseorang. Sebab niatnya sembunyi-sembunyi, ia tidak tahu siapa yang menerima sedekahnya.

Hingga pada pagi harinya beredar perkataan orang-orang, “Tadi malam, ada orang kaya yang diberi sedekah.” Sebab itulah, sang pemberi sedekah kembali panjatkan pinta, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah kepada orang kaya.”

Dua kali ‘salah alamat’, lelaki ini berniat untuk sampaikan sedekah yang ketiga. Masih dengan cara yang sama di tengah malam.

Maka alangkah terkejutnya dirinya saat mendengar warga mengatakan, “Semalam, ada seorang pencuri yang menerima sedekah.”

Dengan kalimat yang sama, lelaki itu kembali berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah kepada seorang pezina, orang kaya, dan pencuri.”

Maka kepada orang itu, sebagaimana riwayat yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya ini, datanglah malaikat yang mengatakan, “Sedekahmu telah diterima.”

“Adapun bagi pezina,” lanjut malaikat, “semoga ia menjaga diri dari zina. Dan semoga orang kaya akan mengambil pelajaran hingga ia mau berinfaq dengan apa yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya.”

Kemudian bagi pencuri, pungkas malaikat menyampaikan, “Semoga ia menjaga diri dari perbuatan mencurinya.”

Jelaslah sudah. Bahwa yang menjadi penentu diterima atau tidaknya amal adalah kualitas niat yang dikombinasikan dengan ikhtiar untuk melakukan yang terbaik. Setelah dua hal itu usai, cukuplah berserah diri kepada Allah Ta’ala yang mustahil menzalimi hamba-hamba-Nya. [Pirman]

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Click: SOURCE
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM-Bagi Anda yang beristri terutama kaum muslimin, pesan Rasulullah sekaligus adab dalam bepergian adalah, janganlah seorang laki-laki yang bepergian (safar), ia pulang mendatangi istrinya di malam hari. Mengapa?

Dalam kitab Al Ishabah, Ibnu Hajar Al Asqalani menceritakan asbabul wurud hadits yang melarang pulang safar di malam hari.

Telah beberapa hari sahabat itu bepergian. Dan malam ini, ia pulang ke Madinah dan langsung menemui istrinya. Betapa kaget dirinya, ternyata ada seseorang yang bertubuh tinggi besar tidur di samping istrinya.

Ia langsung menghunus pedang dan berniat menebas orang itu. Untungnya, ia terlebih dulu mencolek istrinya dengan pedang tersebut dan bertanya, “Siapa orang ini?”

“Ini Fulanah, si tukang sisir. Ia tadi mendandaniku dan karena terlambat pulang, ia menginap di sini,” jawab sang istri.

Alhamdulillah… hampir saja ia melakukan kesalahan fatal jika saja tidak bersabar dan langsung menebaskan pedangnya ke orang tersebut, yang ternyata adalah perempuan tukang sisir.
Paginya, usai shalat Subuh, sahabat ini menghadap Rasulullah dan menceritakan kisahnya semalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

إِذَا دَخَلْتُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ طُرُوقاً

“Jika salah seorang dari kalian lama bepergian, janganlah ia mendatangi istrinya di malam hari” (HR. Ahmad)

Mengapa Rasulullah melarang seorang suami pulang safar menemui istrinya di malam hari? Dalam riwayat yang lain disebutkan alasannya.

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

“Jika salah seorang dari kalian datang pada malam hari maka janganlah ia mendatangi istrinya. (Berilah kabar terlebih dahulu) agar wanita yang ditinggal suaminya mencukur bulu-bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya” (HR. Muslim)

Inilah alasannya. Ketika ditinggal suaminya lama bepergian, lalu tiba-tiba suaminya datang di malam hari, dikhawatirkan istrinya tersebut tidak siap menyambutnya.

Rambutnya masih acak-acakan. Bulu-bulu rahasianya mungkin juga tidak terawat dan baunya sangat tidak sedap. Karenanya menurut para ulama, seorang suami makruh pulang dari bepergian secara tiba-tiba di malam hari, apalagi secara sembunyi-sembunyi. Kalaupun terpaksa pulang di malam hari, dianjurkan untuk menyampaikan kabar terlebih dulu.

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits ini dalam Syarah Shahih Muslim, beliau mengatakan bahwa larangan ini berlaku bagi yang bepergian lama dan datang mendadak tanpa pemberitahuan. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, maka tidak termasuk dalam larangan ini.

“Adapun jika safarnya dekat dan istrinya pun mengharapkan kedatangannya pada malam hari, ” terang beliau, “maka pulang malam pun boleh. Begitu pula jika telah ada informasi awal yang memberitahukan kedatangannya kepada istri dan keluarganya, hal ini pun tidak mengapa.”

Imam Asy Syaukani menjelaskan dalam Nailul Authar bahwa hikmah dilarangnya musafir mendatangi istri pada malam karena kemungkinan ia mendapati istrinya yang tak menyadari kedatangannya, sehingga ia tidak siap membersihkan diri dan bersolek.

Mengapa suami perlu memberitahukan kedatangan dan istri perlu menyambutnya dengan bersih dan rapi? Demikianlah Islam mengatur sesuai fitrah manusia.

Suami istri yang berpekan-pekan terpisah oleh safar tentu merasakan kerinduan dan menantikan kehangatan kasih sayang antara keduanya.

Islam pun mensunnahkan untuk mensegerakan berhubungan sekembalinya suami dari safar. Tentu hal itu bisa berjalan dengan baik jika keduanya telah siap; bersih, harum, rapi. Para sahabat dan shahabiyah sangat mengerti dengan sunnah ini.

Itulah mengapa ketika Abu Thalhah pulang dari berjihad, Ummu Sulaim menyambutnya dengan hangat dan mengajaknya ke tempat tidur meskipun saat ini anaknya baru saja meninggal.

Ummu Sulaim melupakan kesedihannya kehilangan putra dan tidak ingin suaminya terpikirkan kabar duka itu hingga kehilangan gairahnya. Justru karena kesabaran inilah, keesokan harinya Rasulullah mendoakan keberkahan bagi keduanya.

Bagaimana dengan zaman sekarang? Masih terlarangkan pulang malam dari bepergian, sementara terkadang kita dapat jadwal kendaraan (pesawat terbang atau kereta api) malam?

Di zaman dulu, memberikan kabar kedatangan tidak bisa secara tiba-tiba. Tetapi sekarang, semuanya menjadi mudah dengan adanya alat komunikasi (telepon atau HP).

Kita bisa mengabarkan kepulangan kita melalui telepon, SMS, WhatsApp, BBM dan sejenisnya. Sehingga istri bisa bersiap-siap menyambut seperti sabda sang Baginda. Kendati demikian, pulang terlalu larut malam juga tidak baik karena bisa jadi istri telah tertidur atau tetangga terganggu dengan kedatangan kita.

Wallahu a’lam bish shawab. (Muchlisin BK/keluargacinta)

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Click: SOURCE

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


‘Abdullah bin Mubarrok sudah berniat akan pergi haji tahun depan. Oleh karena itu, dia menabung dari sekarang. Menjelang musim haji tiba, dia pergi ke pasar dengan membawa uang 500 dinar untuk membeli unta. Sayang, uang sebanyak itu tidak cukup untuk membeli seekor unta. Maka, dia pulang lagi ke rumah.
Di tengah perjalanan pulang, ‘Abdullah bin Mubarrok melihat ada seorang wanita sedang membersihkan bulu ayam di tempat sampah.

‘Abdullah bin Mubarrok tertarik dan mendekati wanita itu. Ketika tahu bahwa ada orang yang mendekatinya, wanita itu membelakangi ‘Abdullah bin Mubarrok. ‘Abdullah semakin tertarik dan ingin tahu. Dia terperanjat. Ternyata wanita itu sedang membersihkan bangkai ayam.

Itu di ketahui dari tidak ada bekas potongan di leher ayam. Hatinya miris. ‘Abdullah bin Mubarrok bertanya setelah mengucap salam.

“Wahai ibu, untuk apa ibu membersihkan bangkai ayam ini?”

“Untuk di makan.” Jawab wanita itu tanpa menoleh.

“Bukankah ibu tahu, Allah mengharamkan kita memakan bangkai ayam.”

“Bangkai ayam ini memang haram bagi tuan, tetapi tidak untukku dan anak-anakku,” jawab si wanita sambil terus membersihkan bangkai ayam itu.

“Memang apa sebabnya?” ‘Abdullah bin Mubarrok semakin penasaran.

“Jangan campuri urusanku, pergilah menjauh dariku,”jawab wanita itu dengan nada tidak senang.

“Demi Allah, aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum aku tahu masalahmu!. Katakanlah wahai ibu,” ‘Abdullah bin Mubarrok berharap.

“Baiklah, karena kau telah meminta dengan nama Allah, aku beritahu masalahku. Ketahuilah tuan, aku dan anak-anakku sudah tiga hari tidak makan kecuali minum sedikit. Suamiku gugur di jalan Allah, dan dia tidak meninggalkan warisan yang bisa di jual untuk menyambung hidup anak-anaknya yang yatim sekarang. Sedangkan, untuk meminta-minta aku malu. Aku mencari makanan kesana kemari, tapi tidak aku dapatkan kecuali bangkai ayam ini,” jawab wanita itu panjang lebar.

Hati ‘Abdullah tergetar hebat. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Pandangannya menjadi kabur dan seluruh persendianya menjadi terasa lemas. Dia benar-benar merasa sangat berdosa jika membiarkan wanita itu dan anak-anaknya memakan bangkai ayam. Lalu, sambil menunduk, dia berkata dalam hati. “Wahai ibnu Mubarrok, haji apakah yang lebih mabrur dari pada menolong ibu ini dan anak-anaknya?”

Dan tanpa berpikir lagi. ‘Abdullah bin Mubarrok menyerahkan semua uang yang akan di gunakannya untuk membeli unta pengangkut bekal hajinya nanti.

“Wahai ibu, mulai detik ini, bangkai ayam itu haram bagimu dan anak-anakmu! Ambilah ini, dan segeralah beri makan anak-anakmu.”

Wanita itu gembira sekali. Sambil menerima pemberian ‘Abdullah bin Mubarrok, dia berkata, “semoga Allah merahmatimu”

Lalu wanita itu pergi meninggalkan Mubarrok, yang denga ikhlas pulang ke rumah. Terkubur keinginannya untuk pergi hari.

Ketika musim haji sudah selesai, ‘Abdullah bin Mubarrok menyambut rombongan haji di batas kota bersama keluarga dan kerabat haji. Para haji yang baru pulang itu bercerita bertemu ‘Abdullah bin Mubarrok di tempat ini dan itu. ‘Abdullah bin Mubarrok tentu saja heran dengan cerita tersebut karena dia tidak jadi pergi haji. Namun semua orang yang berangkat haji mengaku bertemu dengannya.

Malam harinya, ‘Abdullah bin Mubarrok mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Konon, dalam mimpinya, Rasulullah bersabda, “ Wahai ibnu Mubarrok, engkau telah merelakan bekal hajimu untuk menolong sanak keturunanku sehingga mereka terbebas dari kesulitan hidup. Maka, Allah mengutus malaikat_NYA yang diserupakan dengan dirimu pergi haji untukmu setiap tahun. Dan engkau akan menerima pahalanya sampai hari kiamat.” (Ahamd Syaefudin –Yogyakarta)

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Click: SOURCE
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan. . Landasan dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”

Godaan Setan Saat Bayi Lahir

Posted by zen | 23.08 Categories:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Ada sebuah hadits dari Abu Hurairah ra yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;
"Tidak ada seorang bayi pun dari anak Adam yang terlahir, kecuali ia pasti mendapat tusukan dari syaitan sehingga bayi itu menangis dan menjerit karenanya, kecuali Maryam dan putranya (Nabi Isa as)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Macam-Macam Zina

Posted by zen | 22.03 Categories:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Berikut ini adalah beberapa macam-macam zina:
Zina al-lamam-Zina ain (zina mata) yaitu memandang lawan jenis dengan perasaan senang.
Zina Qolbi (zina hati) yaitu memikirkan atau menghayalkan lawan jenis dengan perasaan senang kepadanya.
Zina Lisan (zina ucapan) yaitu membincangkan lawan jenis dengan perasaan senang kepadanya
Zina Yadin (zina tangan) yaitu memegang tubuh lawan jenis dengan perasaan senang kepadanya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Bagi pasangan lelaki dan perempuan yang sedang pacaran atau bertunangan, inilah alasan dan sebab mengapa anda tak perlu bersentuhan dengan bukan mahram atau pasangan masing-masing di luar sana. Lihat tanda merah dalam gambar. Kajian menunjukkan bagian berwarna merah adalah peningkatan suhu yang tinggi di kawasan tersebut. Jadi berpegangan tangan, jantung seorang perempuan akan berdegup kencang karena cinta dan kasih sayang. Sedangkan lelaki berdegup di otak dan kemaluan kerana nafsu semata-mata.

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
”Manusia pertama yang diadili pada hari kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya".
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Abu Bakr Ahmad bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri seorang qodhi madzhab maliki (wafat 333 H) menyebutkan dalam kitabnya al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm:Dari Kholid bin Yazid, ia berkata:

Hasan al-Bashri berkata:

"Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli baju dari pedagang yang lain.

Dua tahun setelah itu aku haji dan aku ketemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu aku tanya kepadanya: "bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?".

Ia menjawab: "iya benar",

Aku tanya lagi: "apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!"

Iapun bercerita: "Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rejeki, ia meremehkannya dan jika aku datang kepadanya dengan rejeki yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita.

Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata: "Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku melainkan dengan yang thoyib (halal), jika engkau datang kepadaku dengan sedikit rejeki, aku akan menganggapnya banyak. Dan jika engkau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)".

Lihat kitab: al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri al-Qodhi al-Maliki (W. 333H), Muhaqqiq Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Aalu Salman, penerbit: Jumiyyah at-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Bahrain - Ummul Hafsh) Daar Ibnu Hazm (Beirut - Lebanon) Tahun terbit 1419 H.

SEKELUMIT HIKMAH DARI KISAH INI: ..

Faidah penting dari kisah ini adalah bahwa seorang wanita itu sangat berpengaruh terhadap cara suami mencari rizki. Seorang wanita yang tidak bersyukur dengan rizki yang diberikan kepada suaminya dan selalu menuntut lebih, bisa membuat seorang suami melakukan perbuatan yang tidak terpuji dalam melakukan pekerjaannya sebagaimana dalam kisah di atas, ia memuji-muji dagangan dan bersumpah demi melariskan dagangannya.

Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Sumpah itu (memang biasanya) melariskan dagangan jual beli namun bisa menghilangkan berkahnya". (HR. Al-Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1606)

Dari Abu Qatadah Al-Anshari rodhiyallohu anhu, bahwa dia mendengar Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam berdagang, karena dia (memang biasanya) dapat melariskan dagangan tapi kemudian menghapuskan (keberkahannya)." (HR. Muslim no. 1607)

Atau yang banyak terjadi di zaman ini dimana banyak orang berlomba-lomba memperkaya diri tanpa peduli apakah harta itu hasil korupsi, menipu, uang riba, dan lain sebagainya demi memenuhi tuntutan istri dan anak-anaknya. Begitulah wanita yang kufur pada suami menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa.

Adapun istri yang sholihah, ia akan selalu mengingatkan suaminya untuk senantiasa mencari rizki yang halal. Ia selalu mensyukuri pemberian suaminya walaupun sedikit, dan rela membantu suaminya jika suaminya tidak memperoleh apa-apa. Dia lebih menyukai hidup kekurangan daripada hidup berkecukupan tapi dari hasil rizki yang tidak halal.

Betapa indahnya perkataan istri pedagang tersebut yang bersyukur terhadap suaminya: "Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku melainkan dengan yang thoyib (halal), jika engkau datang kepadaku dengan sedikit rejeki, aku akan menganggapnya banyak. Dan jika engkau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu ..."

Maka takutlah engkau wahai para wanita terhadap ancaman ini!
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: "Neraka diperlihatkan kepadaku, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita."

Para sahabat bertanya: "Apakah karena mereka kufur terhadap Allah?",

Beliau menjawab: "mereka kufur terhadap suami dan mengingkari kebaikannya, seandainya engkau berbuat baik pada salah seorang dari mereka selama satu tahun kemudian ia melihat sesuatu (yang tidak ia sukai) darimu, ia akan mengatakan: "Aku tidak pernah melihat satu kebaikanpun darimu".
[HR. al-Bukhori no. 29 dalam Bab Kufron al-Asyir Kufrun Duuna Kufrin]

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube